Blog Jalan Sutera memuat tulisan yang menarik seputar film Fitna. Dia berpendapat supaya kita tidak usah membicarakan lagi tentang film Fitna:
Menurut saya, di jaman digital seperti ini, pemerintah hanya perlu menyatakan bahwa Fitna adalah film yang menyinggung SARA dan mengumumkan kepada khalayak luas bahwa pemerintah Indonesia tersinggung dengan keberadaan film itu. Lalu pemerintah harus mengumumkan kepada masyarakat di Indonesia tentang isi Fitna yang melanggar norma SARA itu secara detail sehingga masyarakat tidak dibuat penasaran. Dengan demikian rakyat tidak berusaha mencarinya dengan sembunyi-sembunyi yang ujung-ujungnya justru akan menghabiskan energi. Tidak perlu ada pemblokiran, tidak perlu ada pelarangan. Bukankah negara kita adalah negara demokratis dan internet adalah salah satu medium yang paling demokratis tempat semua orang mempunyai hak yang sama untuk mengeluarkan pendapat yang bertanggung jawab?
Kapan rakyat ini bisa secara dewasa menerima perbedaan pendapat jika hanya karena satu film sejenis Fitna yang tidak bermutu itu pemerintah kemudian harus memblokir sebuah situs yang mempunyai isi lain yang lebih buanyak dan jauh lebih bermanfaat.
Ayolah, lupakan Fitna. Semakin banyak energi yang dicurahkan untuk memblokir secuil film ini di jagad maya yang tak berujung ini, semakin senang Geert Wilders. Semakin besar kemarahan kita melihat keberadaan film sepanjang 17 menit ini, semakin sukseslah usaha Wilders untuk mempromosikan kebenciannya. Lupakan Fitna, lupakan Wilders. Mari kita ngeblog saja.
* * *
Saya setuju sekali dengannya. Dari pada pusing-pusing mikirin Fitna, atau Youtube yang telah diblokir, mending kita kembali ke hal yang pokok, CARI MAKAN!
Ayo… Coding lagi!!!
Filed under: News